Rabu, 21 Maret 2018

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN APLIKASI OJEK ONLINE


KELEBIHAN DAN KEKURANGAN APLIKASI OJEK ONLINE
 MANFAAT
Bisa lihat tarif sebelum naik.
Sebelumnya, berapa ongkos yang Anda akan keluarkan untuk sampai di tujuan, hanya mengandalkan perkiraan, atau kebiasaan. (Sekarang, aplikasi Blue Bird yang baru, sudah memberikan juga perkiraan harga). Manfaatnya jelas, Anda jadi bisa siapkan dana yang diperlukan.
Punya pilihan cara bayar.
Pilihan cara bayar, mau tunai, pakai kartu kredit atau menggunakan saldo yang sudah diisi sebelumnya via “top up” Tidak ada uang receh, mudah pilih pakai Grab Pay, Go Pay, atau bayar pakai kartu kredit. Jika menggunakan ojek biasa, tentu saja harus pakai uang tunai, atau Anda bisa bayar belakangan asal kenal sama abang ojek :)
Memiliki informasi mengenai pengemudi dan kendaraanya.
Anda bisa lihat foto pengemudi, nomor teleponnya dan plat nomor kendaraannya (setahu saya plat nomor kendaraan hanya ada di Uber dan Grab, sedangkan Gojek tidak ada). Anda bisa kontak pengemudi, jika ingin memberi tahu arah jalan menuju lokasi penjemputan. Dulu Anda baru tahu siapa nama yang mengemudi, jika melihat kartu yang terpasang di dashboard pengemudi. Itupun kalau papan nama itu ada. (Note: tidak semua pengemudi ada foto terlihat di aplikasi Uber atau Grab.
Mengukur waktu penjemputan dan sampai lokasi tujuan.
Informasi berapa menit lagi sampai, dan berapa lama tiba di lokasi tujuan, memberikan rasa nyaman bagi saya. Saya jadi bisa mengelola waktu lebih baik.
Bukti pembayaran dikirimkan via email.
Bukti pembayaran, histori dari transaksi, langsung dikirimkan ke kotak surat elektronik/email saya setelah menyelesaikan trip. Jika ingin reimburse bisa langsung kirim email tersebut ke bagian keuangan kantor. Grab,Uber dan Gojek telah memiliki fitur ini sehingga mudah melihat kembali histori perjalanan disertai jumlah nominal yang telah dikeluarkan.
Ada catatan histori perjalanan.
Histori perjalanan, adalah hal yang menarik sebab trip mana saja yang pernah Anda lalui bisa Anda lihat kembali. Bahkan jika ada pengemudi yang berbuat curang seolah melakukan perjalanan tanpa menjemput Anda, tercatat, dan ini bisa menjadi bukti pelaporan kepada pihak pengelola aplikasi.
Harga relatif lebih rendah.
Jika dibandingkan dengan jarak tempuh sama, Anda hanya bayar Rp 5.000. Sedangkan jika naik “Opang” (Ojek Pangkalan), Anda harus bayar Rp 10.000. Tawaran harga relatif lebih rendah dan promo-promo menarik dari aplikasi-aplikasi ini memanjakan para penggunanya.
Dari manfaat-manfaat yang tersebut di atas, tidak terlepas juga ada resiko yang perlu Anda ketahui. Apa saja resiko jika Anda menggunakan aplikasi transportasi online?
Praktis
Dengan ojek online jelas semua menjadi praktis, karena kamu bisa memesan atau kamu ingin mengantarkan barang dari rumah serta kantor hanya dengan gadget. Driver ojek online langsung menghampiri sesuai keinginan pemesan.
Jadi itu manfaat / kelebihan dari teknologi ojek online
KEKURANGAN
1. Server Error
Pernah mencoba memesan ojek online tapi tidak mendapat respon dari aplikasinya? Saya pernah. Ketika mencoba memesan ojek via Go-Jek, aplikasi yang saya gunakan tidak merespon, sehingga saya terpaksa menggunakan moda transportasi yang lain. Konon ini disebabkan salah satunya oleh over load-nya server si aplikasi, akibat tidak bisa menampung banyaknya user dan driver. Error ini juga pernah saya alami ketika mencoba memasukkan kode referral serta menentukan lokasi penjemputan.

2. Tentangan dari Ojek Konvensional
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFqL-U4TGpSabYLvxLeH0dnLHD2Y7hxwYC_1-jGx3OlieQfBZcLSZgQPVEl3zKQY5pn23_Bn4KzUmHX7wEyjLop0qWD4Pow5TlDNLEU8lzbuYS9g7mRKSs0b0uCQBA2OTYubTmxPknv2k/s400/dilarang+masuk.jpg
Sumber Gambar: http://foto.inilah.com/
Ternyata kehadiran Ojek Online ini tidak diterima dengan baik oleh semua pihak. Salah satunya yang paling keras bersuara adalah para pengojek pangkalan yang sudah biasa menjajakan jasanya secara konvensional. Selain di Jakarta, saya pernah menggunakan jasa ojek online Go-Jek ini di Cikarang, Bogor dan Bandung. Dan di tiga daerah tersebut beberapa pengemudinya meminta maaf karena tidak berani menggunakan atribut (jaket dan helm) yang seharusnya merupakan identitas bagi si pengemudi, dengan alasan masih riskan jika bertemu tukang ojek konvensional. Beberapa spanduk yang menolak kehadiran ojek online ini, khususnya Go-Jek dan Grab Bike, juga muncul di beberapa titik di kota Bandung dan Jakarta.

3. Tidak bisa memilih Driver
Di aplikasi ojek online ini kita bisa melihat apakah ada ojek yang berada di sekitar kita yang dapat menjemput kita dengan cepat jika order dilakukan. Tapi sayangnya, kita tidak bisa memilih driver mana yang akan kita gunakan. Setelah kita memesan, maka para driver akan "berebut" untuk mendapatkan order tersebut. Saya pernah memesan ojek online di sebuah titik yang cukup strategis di kota Jakarta, dan banyak pengemudi ojek online tersebut yang ada di sekitar lokasi saya, yang saya perkirakan tidak akan mencapai 5 menit untuk dapat menjemput saya. Akan tetapi yang mendapatkan order saya ternyata pengemudi yang lokasinya tidak terlalu dekat, dan benar saja, saya harus menunggu hampir 15 menit sebelum akhirnya dijemput ojek ini. Hal ini juga menjadikan kita tidak dapat memiliki tukang ojeg langganan :)

4. Tidak bisa pindah tujuan
Ketika kita sudah di atas motor tukang ojek online ini, maka kita akan diantarkan ke titik lokasi sesuai yang kita pesan di aplikasinya. Kalau di tengah jalan ada perubahan rencana atau panggilan mendadak, maka kita tidak bisa secara serta merta meminta sang pengemudi untuk merubah arah tujuan. Terus terang kalau ini saya belum pernah mengalami, tapi mendapat cerita dari teman saya, kak
Matahari Timoer yang harus dua kali berganti moda transportasi karena ada perubahan rencana mendadak ketika sudah berada di atas motor ojek online ini.

5. Tidak menemukan pengemudi ojek
Ya, terkadang setelah pemesanan melalui aplikasi ojek online ini dilakukan, beberapa saat kemudian muncul notifikasi "we can not find a driver". Saya dua kali mengalami ini, pertama ketika mencoba menggunakan Go-Jek di Bandung dan Bogor. Hal ini mungkin disebabkan karena belum banyaknya driver Go-Jek pada saat itu di dua kota tersebut. Dan yang kedua adalah ketika mencoba memesan via Blu-Jek di salah satu titik strategis di Jakarta. Ini juga tampaknya karena masih sedikitnya pengemudi Blu-Jek yang baru saja lahir ini. Akhirnya saya memilih naek angkutan umum lainnya.










6. Standar pelayanan yang sudah tidak lagi standar
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbK_KjPd_fLufNpLusVo18yj6vk79yETeZzWTBNQJF-_cmRzuZ3Flol8OmoxcDCKX-Z2cJLLrhCA3gLCbMEE-iX2xpazdsJzxpvtya9mL9tpFm1X_hQMNQBDtJBnugIn3FPr3CidF3QGY/s400/27.jpg
Sumber Gambar: go-jek.com
Ini saya rasakan di layanan Go-Jek. Ketika baru awal-awal beroperasi, setiap pengemudi Go-Jek yang saya pesan selalu dengan sigap menawarkan masker dan cover kepala sebagai bagian dari layanan ojek online ini. Tetapi belakangan ini hal tersebut semakin langka, jangankan penutup kepala, masker saja kadang mereka tidak tawarkan. Padahal di aplikasinya masih jelas tertulis bahwa hal tersebut merupakan bagian dari layanan ojek online ini. Standard pelayanan di aplikasi sudah tidak menjadi standar para pengemudinya di lapangan.

7. PELANGGARAN PRIVASI!!!
"Selamat pagi cantik"... "Udah makan belum?"... Pesan singkat itu bukan dikirimkan oleh seorang teman atau pacar kepada teman atau pasangannya, tapi oleh pengemudi ojek online kepada pelanggan yang pernah dia antar. Ya, cerita itu sering terdengar di beberapa postingan media sosial. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena aplikasi ojek online ini memungkinkan para pengemudi driver dan penggunanya untuk saling mengetahui nomor handphone masing-masing, tujuannya adalah untuk memudahkan komunikasi ketika proses pemesanan, tapi oleh beberapa oknum pengemudi malah dijadikan alat untuk melanggar privasi pelanggannya.


Salah satunya cerita yang dapat dari teman saya yang membagikan pengalamannya di sebuah WhatsApp Group. Teman saya, seorang perempuan muda, ditelpon dari nomor yang tidak dikenalnya pada pukul 00.10 dini hari. Karena orbolannya tidak jelas akhirnya dia tutup teleponnya, dan ditanyakan lewat SMS. Ternyata yang menelpon adalah sopir ojek online yang pernah mengantarkan dia! (Lihat gambar di atas). Walaupun cuma iseng, tapi ngeri gak sih?
Ini menjadi isu sekaligus kekurangan yang paling kritis dari aplikasi ojek online. Perlu dicari cara agar para penggunanya merasa nyaman tidak hanya ketika menggunakan layanannya tetapijugasetelahnya.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSGVAA_znHoRqFg7PLKzrUPVbO2VuhBkwJi5pC5WuJ3tiT41SbTAd8mlD680zHhdcZF0y4uPfteW_CiVT1Ykq6EG0AGfYE8OuYBPFzv0KtY9PXMoe3xreLYQD-ly3MeuiFjQ00vUBZ7_s/s400/12031993_10206717855856979_4982092799531604872_n.jpg 









Pengemudi belum tentu tahu jalan
Anda sebagai penumpang, mengharapkan pengemudi sudah (pasti) tahu jalan. Nah, ini pun perlu Anda ketahui, bahwa pengemudi Uber, Grab dan Gojek, mengandalkan aplikasi mereka untuk tiba sampai tujuan. Ketika mengemudi, mereka sambil lihat Google Maps atau Waze mengikuti arah yang diperlihatkan pada smartphone mereka. Jika Anda beruntung, pengemudi Uber, Grab atau Gojek, sudah tahu akan lewat jalan apa, jika tidak, Anda yang harus mengarahkan mereka agar sampai tujuan dengan selamat. Perlu Anda ingat seperti poin saya sebelumnya, mereka bukan pengemudi profesional.


Jadi itu catatan saya tentang kekuragan dari Ojek Online ini dari sisi pengguna.



Saran lagi kedepan nya,

Lebih di patuhi SOP nya, dan lebih patuh terhadap lalu lintas dan lebih menghargai customer nya.
 seperti masker dan penutup rambut, dan  motor yg layak, dan berkendara yg lebih baik lagi supaya customer nyaman berkendara dengan ojek online
 
Syarat Requirement

kondisi motor baik, berprilaku baik dan memiliki surat kendaraat yg lengkap,

Sabtu, 13 Januari 2018

TREND SISTEM INFORMASI DALAM BIDANG BISNIS

TREND SISTEM & TREND TI DIDALAM BISNIS

   BAB. I
   Trend Sistem

1. Ekonomi API
      API (Application Programming Interface) adalah sekumpulan perintah, fungsi, dan protokol yang dapat digunakan oleh programmer saat membangun perangkat lunak untuk sistem operasi tertentu. API memungkinkan programmer untuk menggunakan fungsi standar untuk berinteraksi dengan sistem operasi lain. API juga merupakan sebuah bahasa dan format pesan yang digunakan oleh program aplikasi untuk berkomunikasi dengan system operasi atau program pengendalian lainnnya seperti system manajemen database (DBMS) atau komunikasi protocol. API sudah tersedia dan telah menjadi pengendali bisnis.

2. Pemasaran Dimensi
Dimensi dalam pemasaran :
Menurut Tandjung (2004) empat dalam pemasaran adalah adalah:
1. Bonding
Ketergantungan antara kedua belah pihak harus cukup kuat, sehingga hubungan keduanya dapat bertahan lama. Seorang pelanggan bila merasa tidak memiliki ketergantungan yang kuat terhadap penjual, maka kemungkinan pelanggan tersebut akan sering berganti pemasok.
2. Empathy
Seorang penjual harus memiliki kepedulian (empathy) kepada pelanggan, artinya seorang penjualan hendaknya peduli terhadap permasalahan yang dihadapai pelanggan dan memperhatikan sudut pandang pelanggan dalam mengatasi suatu masalah.
3. Reciprocity
Hubungan jangka panjang haruslah saling memberi dan menerima. Artinya, baik penjual maupun pelanggan sama-sama mendapat keuntungan. Pelanggan yang menginginkan diskon besar, tentunya harus mengimbangi dengan pembayaran tunai.
4. Trust
Trust lebih dari sekedar believe, meskipun kedua kata tersebut memiliki arti yang hampir sama. Masing-masing pihak bila memiliki komitmen yang kuat, maka akan menciptakan rasa sangat percaya (trust) dan memperkuat hubungan.

3. Robot Manusia
     Robot Manusia atau Robot Humanoid adalah robot yang penampilan keseluruhannya dibentuk berdasarkan tubuh manusia, mampu melakukan interaksi dengan peralatan maupun lingkungan yang dibuat-untuk-manusia. Secara umum robot humanoid memiliki tubuh dengan kepala, dua buah lengan dan dua kaki, meskipun ada pula beberapa bentuk robot humanoid yang hanya berupa sebagian dari tubuh manusia, misalnya dari pinggang ke atas. Beberapa robot humanoid juga memiliki 'wajah', lengkap dengan 'mata' dan 'mulut'. Android merupakan robot humanoid yang dibangun untuk secara estetika menyerupai manusia.
Robot humanoid digunakan sebagai alat riset pada beberapa area ilmu pengetahuan. Periset perlu mengetahui struktur dan perilaku tubuh manusia (biomekanik) agar dapat membangun dan mempelajari robot humanoid. Di sisi lain, upaya mensimulasikan tubuh manusia mengarahkan pada pemahaman yang lebih baik mengenai hal tersebut. Kognisi manusia adalah bidang studi yang berfokus kepada bagaimana manusia belajar melalui informasi sensori dalam rangka memperoleh keterampilan persepsi dan motorik. Pengetahuan ini digunakan untuk mengembangkan model komputasi dari perilaku manusia dan hal ini telah berkembang terus sepanjang waktu.

4. Pekerja Teknik Informatika bagi masa Depan

     Informatika dapat secara jelas diartikan sebagai perangkat yang menghasilkan informasi, lebih menunjuk pada jaringan ataupun telekomunikasi. Komputer, menjadi salah satu contoh di dalamnya. Seperti yang kita ketahui, perkembangan teknologi membuat jaringan telekomunikasi dan komputer menjadi bidang yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Perkembangannya tidak dapat dihentikan, apalagi menyurut. Perkembangan teknologi informasi terus berkembang menuju ke atrah yang lebih baik, maksimal, canggih dan efektif. Mengenai peluang kerja sarjana teknik informatika yang sangat prospektif. Profesi pertama adalah programmer, dapat dikatakan sebagai peluang kerja teknik informatika yang paling banyak ditemui, profesi kedua yaitu IT Consultant atau konsultan TI, Web Engineer, System Analyst dan masih lagi. Pada dasarnya, jurusan teknik informatika membimbing seseorang untuk dapat mengembangkan berbagai program informatika dengan menggunakan bahasa pemograman. Program – program komputer dirancang sedemikian rupa, untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan sesuatu.

5. Contoh Kasus
    Contoh kasus dalam perkembangan robot manusia. Di balik perkembangannya yang pesat, tumbuh ketakutan yang memposisikan robot sebagai pesaing manusia selaku penciptanya. Perkembangan teknologi robotika kian hari, kian menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Terkini, sebagian besar ilmuwan robot bahkan tengah berfokus mengembangkan "humanoid", unit robot yang memiliki bentuk dan kemampuan fisik layaknya manusia, serta dibekali dengan teknologi artificial intelligence (AI).
Namun di balik perkembangannya yang pesat, tumbuh ketakutan yang memposisikan robot sebagai pesaing manusia selaku penciptanya. Bahkan, banyak pula yang beranggapan bahwa robot mengancam keselamatan manusia, seperti pada kisah-kisah film fiksi ilmiah.

                                        BAB II.
                                 Trend TI Dalam Bisnis


1. Pengertian
      Zaman sekarang ini adalah jaman modern, hampir semua hal bisa dilakukan dari rumah, dari mulai membayar semua tagihan baik berupa tagihan telepon, internet, tv berbayar, listrik, pam dan lain-lain, cukup dengan menggunakan m-banking, dan semua bisa dilakukan dengan cara online. Kita tidak dapat memungkiri pentingnya teknologi informasi dalam kehidupan kita.
       Teknologi informasi (TI) telah menjadi bagian yang sangat penting dalam setiap rencana bisnis. Hampir dari seluruh perusahaan baik skala besar maupun kecil menggunakan Teknologi Informasi, sebagai salah satu aktifitas yang sangat dibutuhkan untuk memberikan peningkatan terhadap layanan bisnis yang mereka kelola. Teknologi Informasi telah banyak digunakan untuk mendukung proses bisnis yang terjadi pada perusahaan, baik bidang ekonomi maupun perbankan. Dengan hadirnya aplikasi-aplikasi dan layanan e-bussiness, e-commerce, e-banking dan lain-lain. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku bisnis merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Penerapan Teknologi Informasi menyebabkan perubahan pada pola kebiasaan kerja. Misalnya penerapan Enterprice Resource Planning (ERP).

2. Teknologi Informasi dan Dunia Bisnis
        Teknologi Informasi dan Dunia Bisnis merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan zaman saat ini. Teknologi informasi yang ada saat ini sangat memudahkan pelaku dalam dunia bisnis dalam menjalankan bisnis-bisnis mereka. Dalam dunia bisnis peranan Teknologi Informasi dimanfaatkan untuk perdagangan secara elektronik atau dikenal sebagai E-Commerce (e-dagang) atau perdagangan elektronik. E-Commerce adalah perdagangan menggunakan jaringan komunikasi internet. E-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dan lain-lain. Selain teknologi jaringan www, e-dagang juga memerlukan teknologi basis data atau pangkalan data (databases), e-surat atau surat elektronik (e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk e-dagang ini.

3. Prosedur Pendirian Bisnis, Kontrak Kerja, Prosedur Pengadaan
a. Pendirian Bisnis
Berikut ini adalah prosedur-prosedur yang harus dilakukan:
1. Tahapan pengurusan izin pendirian
    Bagi badan usaha berskala besar, hal ini menjadi prinsip yang paling penting demi kemajuan dan pengakuan atas perusahaan yang bersangkutan. Hasil akhir pada tahapan ini adalah sebuah izin prinsip yang dikenal dengan Letter of Intent yang dapat berupa izin sementara, izin tetap hingga izin perluasan.
Untuk beberapa jenis badan usaha lainnya, misalnya sole distributor dari sebuah merek dagang, Letter of Intent akan memberi turunan berupa Letter of Appointment sebagai bentuk surat perjanjian keagenan yang merupakan izin perluasan, jika perusahaan ini memberi kesempatan pada perusahaan lain untuk mendistribusikan barang yang diproduksi.
Beberapa dokumen yang diperlukan pada tahapan ini adalah Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan Bukti diri. Serta perizinan yang perlu dipenuhi dalam badan usaha tersebut, yaitu Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), dan Surat Izin Usaha Industri (SIUI)
2. Tahapan pengesahan menjadi badan hukum
    Tidak semua badan usaha harus berbadan hukum. Akan tetapi, setiap badan usaha yang memang dimaksudkan untuk ekspansi atau berkembang menjadi berskala besar, maka hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan izin atas kegiatan yang dilakukannya tidak boleh mengabaikan hukum yang berlaku. Izin yang mengikat suatu bentuk badan usaha tertentu di Indonesia memang terdapat lebih dari satu macam. Adapun pengakuan badan hukum bisa didasarkan pada Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), hingga Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA).
3. Tahapan penggolongan menurut bidang yang dijalani
   Badan usaha dikelompokkan berdasarkan jenis bidang kegiatan yang dijalani. Berkaitan dengan bidang tersebut, maka setiap pengurusan izin disesuaikan dengan departemen yang membawahinya seperti kehutanan, pertambangan, perdagangan, pertanian, dan sebagainya.
4. Tahapan mendapatkan pengakuan, pengesahan dan izin dari departemen lain
    Departemen tertentu yang berhubungan langsung dengan jenis kegiatan badan usaha akan mengeluarkan izin. Namun, diluar itu, badan usaha juga harus mendapatkan izin dari departemen lain yang pada nantinya akan bersinggungan dengan operasional badan usaha, misalnya Departemen Perdagangan mengeluarkan izin pendirian industri yang berupa SIUP.

b. Kontrak Kerja
     Definisi kontrak kerja adalah suatu bentuk perjanjian kerja antara karyawan dan perusahaan. Adapun isi kontrak kerja yaitu, hak dan kewajiban karyawan dan perusahaan selama terikat hubungan kerja, yang ditandai dengan penandatanganan kontrak kerja tersebut oleh pimpinan perusahaan dan karyawan. Terdapat 3 sistem kontrak kerja, yaitu:
    1. Perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT), karyawannya biasa disebut dengan karyawan kontrak. Lamanya kontrak 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Masa kontrak bisa diperpanjang dengan maksimal 2 tahun.
   2. Perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT), karyawan dengan kontrak ini disebut dengan karyawan permanent (tetap). Perjanjian kerja yang dibuat bersifat tetap. Pada kontrak kerja ini, karyawan bisa langsung menjadi tetap/permanent atau melalui masa percobaan kerja (probation) untuk paling lama 3 (tiga) bulan. Setelah lulus masa percobaan, karyawan tersebut baru bisa menjadi karyawan tetap.
    3. Untuk kontrak kerja melalui outsourcing, anda akan mengikuti hak dan kewajiban perusahaan outsorcing, walaupun nantinya anda akan disalurkan ke perusahaan yang menjadi klien perusahaan outsourcing, sehingga perjanjian yang dibuat adalah perjanjian tidak langsung dengan tempat anda ditugaskan untuk bekerja. Sedangkan untuk kontrak kerja langsung dengan perusahaan, anda mengikuti hak dan kewajiban perusahaan tersebut.

c. Prosedur Pengadaan
Prosedur pengadaan terdiri dari prosedur pengadaan tenaga kerja dan prosedur pengadaan barang dan jasa.
   A. Prosedur Pengadaan Tenaga Kerja
Prosedur pengadaan tenaga kerja terdiri dari:
    1. Perencanaan Tenaga Kerja
      Perencanaan tenaga kerja adalah penentuan kuantitas dan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan dan cara memenuhinya. Penentuan kuantitas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, time motion study dan peramalan tenaga kerja. Sedangkan penentuan kualitas dapat dilakukan dengan Job Analysis. Job Analysis terbagi menjadi 2, yaitu Job Description dan Job Specification/Job Requirement. Tujuan Job Analysis bagi perusahaan yang sudah lama berdiri, yaitu untuk reorganisasi, penggantian pegawai, dan penerimaan pegawai baru.
     2. Penarikan Tenaga Kerja
       Penarikan tenaga kerja diperoleh dari 2 sumber, yaitu sumber internal dan sumber eksternal. Sumber internal yaitu menarik tenaga kerja baru dari rekomendasi karyawan lama dan nepotisme, berdasarkan sistem kekeluargaan, misalnya mempekerjakan anak, adik, dan sebagainya. Keuntungan menarik tenaga kerja dari sumber internal yaitu lowongan cepat terisi, tenaga kerja cepat menyesuaikan diri, dan semangat kerja meningkat. Namun, kekurangannya adalah menghambat masuknya gagasan baru, terjadi konflik bila salah penempatan jabatan, karakter lama terbawa terus, dan promosi yang salah mempengaruhi efisiensi dan efektifitas. Tujuan menarik tenaga kerja dari sumber internal adalah untuk meningkatkan semangat, menjaga kesetiaan, memberi motivasi, dan memberi penghargaan atas prestasi. Sumber eksternal yaitu menarik tenaga kerja baru dari lembaga tenaga kerja, lembaga pendidikan, ataupun dari advertising, yaitu media cetak dan internet. Keuntungan menarik tenaga kerja dari sumber eksternal adalah dapat meminimaslisasi kesalahan penempatan jabatan, lebih berkualitas dan memperoleh ide baru/segar. Namun kekurangannya adalah membutuhkan proses yang lama, biaya yang cukup besar, dan rasa tidak senang dari pegawai lama. Tujuan menarik tenaga kerja dari sumber eksternal adalah untuk memperoleh gagasan/ide baru dan mencegah persaingan yang negatif.
      3. Seleksi Tenaga Kerja
       Ada 5 tahapan dalam menyeleksi tenaga kerja, yaitu seleksi administrasi, tes kemampuan dan psikologi, wawancara, tes kesehatan dan referensi (pengecekan). Terdapat dua pendekatan untuk menyeleksi tenaga kerja, yaitu :
Succecive Selection Process adalah seleksi yang dilaksanakan secara bertahap atau sistem gugur.
Compensatory Selection Process adalah seleksi dengan memberikan kesempatan yang sama pada semua calon untuk mengikuti seluruh tahapan seleksi yang telah ditentukan.
      4. Penempatan Tenaga Kerja
         Penempatan tenaga kerja adalah proses penentuan jabatan seseorang yang disesuaikan antara kualifikasi yang bersangkutan dengan job specification-nya. Indikator kesalahan penempatan tenaga kerja yaitu tenaga kerja yang tidak produktif, terjadi konflik, biaya yang tinggi dan tingkat kecelakaan kerja tinggi.

       B. Prosedur Pengadaan Barang dan Jasa
        Berdasarkan Keppres No. 80/2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa terdapat beberapa metode pemilihan serta sistem penilaian kompetensi penyedia barang dan jasa. secara umum jenis-jenis metode pemilihan penyedia barang dan jasa, yang antara lain:
          1. Metode Pelelangan Umum merupakan metoda pemilihan penyedia barang/jasa yang relatif banyak dilakukan. Pelelangan umum dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum, sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya.
         2. Pelelangan Terbatas terbatas dilakukan, jika pelelangan umum sulit dilaksanakan karena penyedia barang/jasa yang mampu mengerjakan diyakini terbatas dan pekerjaannya kompleks, maka dilakukan pelelangan terbatas. Pelelangan terbatas diumumkan secara luas melalui media massa dan
           3.  Pemilihan Langsung yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran, sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet.
        4. Penunjukan Langsung. Berdasarkan ketentuan dalam Keppres No 80/2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa, Penunjukan langsung dalam pengadaan barang/jasa dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria yang antara lain: Terjadi keadaan darurat untuk pertahanan negara, keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda, atau harus dilakukan segera, termasuk penanganan darurat akibat bencana alam, Pekerjaan yang bersifat rahasia dan menyangkut pertahanan serta keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden, Pekerjaan berskala kecil dengan nilai paket pekerjaan maksimum Rp. 50.000.000

4. Aplikasi Bisnis
Aplikasi bisnis yaitu suatu aplikasi komputer atau perangkat lunak komputer untuk menunjang kegiatan bisnis suatu perusahaan. aplikasi ini kebanyakan digunakan untuk bisnis lewat media internet. Pada dasarnya teknologi informasi (aplikasi bisnis salah satunya) dapat dan memang sebaiknya dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk membuat usahanya semakin efisien, dan mendorong usaha tersebut memiliki daya saing yang lebik dibanding usaha lainnya. Beberapa manfaat yang bisa dirasakan pelaku usaha diantaranya adalah :
1.  Pemasaran bisa lebih luas dan murah (internet marketing)
2. Perubahan desain bisa disimulasikan/dicoba coba dulu tanpa takut rusak, kehabisan bahan, dll (Fotoshop, paint, dll)
3. Promosi bisa lebih menarik
4. Pengelolaan keuangan lebih cepat dan mengurangi risiko penyelewengan (aplikasi akuntansi)
5. Berbagai Informasi pelanggan bisa disimpan
6. Pelayanan bisa lebih cepat, contoh dengan barcode, kasir tidak perlu lagi mengetik kode barang
7. Prediksi penjualan bisa dilakukan
Namun demikian, memang tidak semua usaha harus menggunakan bantuan teknologi informasi tersebut, paling tidak jika :
1. Skala usaha masih terlalu kecil (meskipun banyak juga usaha kecil menjadi cepat besar karena memanfaatkan teknologi ini)
2. Biaya yang diperlukan lebih besar dari keutungan yang bisa diperoleh
3. Tidak ada SDM/karyawan yang bisa mengurus atau menanganinya
4. Karakteristik produk yang tidak mungkin dipasarkan secara umum
Lepas dari hal tersebut di atas, ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan oleh pelaku usaha untuk mempermudah megelola usahanya. Disamping tidak perlu membeli (karena ada versi yang gratis), aplikasi tersebut juga relatif mudah digunakan. Beberapa aplikasi tersebut diantaranya adalah :
1. QSB
Aplikasi ini bermanfaat untuk membantu pelaku usaha dalam hal :
a. Meramalkan nilai penjualan di masa yang akan datang dengan berbagai metode dan pendekatan
b. Menentukan jumlah produksi yang paling ‘pas’ dan perubahan yang diijinkan
c. Pembagian tugas karyawan yang paling efisien
d. Menentukan lokasi usaha yang paling optimal
e. Menentukan alokasi pengiriman barang
f. Menyelesaiakan masalah antrian yang terjadi

2. QM for Windows
Aplikasi ini manfaatnya sama dengan aplikasi QSB di atas, namun versi gratisnyasudah tersedia di internet, hanya saja tidak semua fasilitas bisa digunakan.

3. Invest
Aplikasi ini bermanfaat untuk pelaku usaha yang memiliki dana mengganggur dan ingin diinvestasikan ke surat berharga (Investasi ini tidak monopoli pengusaha dengan dana besar, UMKM pun bisa). Denga aplikasi ini, pelaku usaha akan dibantu menempatkan dana menganggurnya dengan pertimbangan-pertimbangan yang lebih bisa dipertanggung jawabkan.

4. CDP
Aplikasi ini sangat bermanfaat bagi pelaku usaha yang sering dihadapkan pada banyak pilihan, ketika akan memutuskan sesuatu, misalnya :
1. Mesin dengan merk apa yang akan dipilih
2.Jenis transportasi apa yang akan dipakai untuk mengirim barang
3. Pemasok mana yang akan dipilih
4. Bentuk dan bahan kemasan yang akan digunakan, dll
Dengan aplikasi ini, pelaku usaha akan dibantu menentukan pilihan yang paling memungkinkan (baik), diantara berbagai alternatif pilihan yang ada.

5. OpenOffice
Aplikasi ini menjadi pilihan apabila pelaku usaha ingin membuat dan mencetak berbagai dokumen usaha (surat penawaran, daftar barang, dll). Dengan aplikasi ini pula pelaku usaha bisa membuat anggaran, mengevaluasi kinerja/hasil usaha. Pelaku usaha juga bisa melakukan presentasi dengan lebih menarik dengan bantuan aplikasi ini, dan beberapa manfaat penting lainnya.

5. Proses & Strategi Pengembangan Bisnis TI
Proses Strategi SI/TI seharusnya merupakan suatu bagian Strategi bisnis, perencanaan bisnis, dan implementasinya. Tujuan utama pengembangan strategi SI adalah mengidentifikasi  nilai tambah dari portofolio aplikasi yang akan
memberikan  dampak strategis. Strategi TI menggambarkan visi bagaimana
kebutuhan organisasi akan informasi dan sistem yang didukung oleh  teknologi informasi.
Berikut Merupakan Model Proses Perencanaan Strategi SI/TI :

-          Lingkungan bisnis internal
• Strategi bisnis saat ini, tujuan bisnis, sumberdaya, proses bisnis, budaya, serta nilai bisnis
-          Lingkungan bisnis eksternal
• Iklim  persaingan, industri, dan ekonomi
-          Lingkungan SI/TI internal
• Kondisi SI/TI saat ini, kematangan, kontribusi dan cakuoan bisnis,
kektrampilan, sumberdaya, infrastruktur teknologi.
-          Lingkungan SI/TI eksternal
• Tern teknologi, dsn peluang, serta pemanfaatan SI/TI oleh
organisasi lainnya

6. Aturan E-Business pada Bisnis
Aturan E-Business pada Bisnis antara lain sebagai berikut :

1. Komunikasi
Yang dimaksud dengan komunikasi adalah adanya fasilitas atau media yang memungkinkan terjadinya pertukaran informasi, layanan, transaksi elektronik (pemesanan dan pembayaran secara elektronik) dan perpindahan barang dari penjual ke pembeli. Media komunikasi yang memadai yang bisa mempertemukan pelaku e-Business menjadi syarat utama terselenggaranya.

2. Komersial (Perdagangan)
Sisi komersial yang disyaratkan pada e-Business adalah adanya sistem untuk melakukan transaksi online mulai dari promosi barang, pemesanan barang, pembayaran dan pengiriman barang. Pembeli barang memesan barang tidak memerlukan melihat barang secara langsung tetapi melalui gambar atau spesifikasi yang tercantum dalam website. Sedangkan untuk pemesanan, sistem shopping online terhubung dengan sistem inventory untuk mengetahui stock barang sehingga barang yang dibeli memang ada. Untuk pembayaran, sistem shopping online harus terhubung dengan otoritas pembayaran misalnya bank atau penyedia kartu kredit agar nilai yang dibayarkan oleh pembeli berasal dari alat pembayaran yang sah dan memiliki nilai yang cukup.

3. Proses Bisnis
Setiap pelaku e-Business yang ingin melalukan transaksi elektronik dan mendapatkan manfaat semaksimal mungkin dari e-Business harus melakukan optimalisasi proses bisnis internal dengan memanfaatkan teknologi informasi agar aliran informasi, transaksi, maupun lama pengiriman barang menjadi dipersingkat, biaya transaksi menjadi lebih ekonomis jika dibandingkan dengan perdagangan yang dilakukan secara tradisional.

4. Layanan
Bagi setiap institusi yang menjadi pelaku e-Business, penggunaan teknologi informasi dan internet seharusnya menjadikan layanan ke customer menjadi lebih baik, lebih ekonomis, dan lebih terjangkau. Misalnya, dimensi barang yang ditawarkan beserta spesifikasinya bisa diperiksa lebih seksama sebelum dibeli (diakses melalui website), tidak diperlukan toko secara fisik, dan bisa diakses dari mana saja dengan menggunakan internet. Bahkan dengan sistem informasi, customer bisat dilayani secara khusus dan personal karena data-data aktifitas customer direkam dan bisa dilakukan analisis untuk meningkatkan pelayanan.

5. Learning
Untuk meningkatkan awareness baik diantara pengguna maupun pelaku e-Business, proses edukasi sangat penting agar semakin banyak anggota masyarakat yang menyadari manfaat dan kelebihan dari transaksi online. Perbedaan dengan transaksi tradisional adalah pembeli dan penjual tidak perlu belajar sebelum melakukan transaksi sedangkan transaksi online karena pengguna maupun pelaku tidak berhadapan dengan manusia tetapi dengan mesin computer maka diperlukan proses edukasi agar mereka bisa menggunakan fasilitas atau media transaksi dengan lancar.

6. Kolaborasi
Satu siklus transaksi online antara penjual dan pembeli melibatkan stakeholder lain yang harus berkolaborasi untuk menyelesaikan transaksi tersebut. Pada saat pembayaran maka akan terjadi kolaborasi antara penyedia shopping online dengan bank atau penyedia kartu kredit untuk menyelesaikan proses pembayaran. Setelah dibayar maka terjadi kolaborasi antara penyedia shopping online dengan gudang, dan jasa pengiriman barang untuk mengantarkan barang sampai ke pembeli. Pihak lain yang juga terlibat adalah pihak asuransi untuk melakukan penjaminan transaksi maupun atas barang yang dikirim. Kolaborasi yang terjadi dalam e-Business.

7. Komunitas
Dalam dunia maya (world wide web) komunitas merupakan salah satu indikator untuk mengukur aktifitas pengguna. Dalam e-Business, komunitas merupakan media yang cukup penting untuk belajar dan memperbaiki diri secara terus menerus baik dari sisi pelaku maupun pengguna dalam hal produk, layanan, maupun mekanisme transaksi.

SUMBER :
https://bambangeriysite.wordpress.com/2017/01/08/trend-sistem-informasi-dalam-dunia-bisnis/
http://wahyuluonet.blogspot.co.id/2016/12/trend-sistem-informasi-dan-teknologi.html
http://akbrpp.blogspot.co.id/2016/12/trend-sistem-ti-bagi-masa-depan-dan.html

Minggu, 05 November 2017

JENIS PEKERJAAN YANG BERKAITAN DI BIDANG SISTEM INFORMASI

JENIS PEKERJAAN DAN FUNGSI NYA YANG BERKAITAN DENGAN SISTEM INFORMASI.





Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan beberapa profesi yang dapat diambil dalam bidang sistem informasi beserta dengan tugasnya masing - masing.

Berikut ini adalah beberapa profesi yang dapat diambil dalam sistem informasi beserta dengan tugasnya :

1.  Analis sistem: Profesi yang bertugas menganalisa sistem yang akan diimplementasikan, mulai dari menganalisa sistem yang ada, tentang kelebihan dan kekurangannya, sampai studi kelayakan dan desain sistem yang akan dikembangkan.

2. System Programmer / Software Engineer: Profesi yang bertugas mengimplementasikan rancangan sistem analis yaitu membuat program (baik aplikasi maupun sistem operasi) sesuai sistem yang sebelumnya dianalisa.

3. Web designer : Profesi yang bertugas untuk melakukan kegiatan perencanaan, termasuk studi kelayakan, analisis dan desain terhadap suatu proyek pembuatan aplikasi berbasis web.

4. Web programmer : Profesi yang bertugas mengimplementasikan rancangan web designer yaitu membuat program berbasis web sesuai desain yang telah dirancang sebelumnya.

5. System administrator : Profesi yang bertugas melakukan administrasi terhadap sistem, melakukan pemeliharaan sistem, memiliki kewenangan mengatur hak akses terhadap sistem, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan pengaturan operasional sebuah sistem.

6. Business Process Analyst : Profesi yang bertanggung jawab dalam memahami kebutuhan bisnis dalam sebuah organisasi. Business analyst harus mempunyai kemampuan dalam hal mencari sebuah isu penting dalam organisasi, mencari kekuatan dan kelemahan organisasi dan saran perbaikannya, melihat dan memperbaiki kebutuhan yang dibutuhkan, serta mampu mengindentifikasi sebuah proses bisnis organisasi/perusahaan yang dibutuhkan.

7. Application Developer : Sebuah profesi yang bertanggung jawab untuk pengembangan aplikasi bidang Sistem Informasi. Sekarang banyaknya perusahaan yang sudah menggunakan teknologi dan informasi yang semakin canggih sehingga  perusahaan/organisasi membutuhkan banyak sekali pegawai yang memiliki kemampuan dalam pengembangan aplikasi.

8. Database Administrator : Profesi ini yang bertanggung jawab dalam pengelolaan data base yang dimiliki oleh organisasi/perusahaan, mulai dari proses implementasi data base, mengawasi kinerja database sampai dengan proses pemulihan dan pengamanan data apabila dalam sistem mengalami sebuah gangguan. Profesi ini merupakan profesi yang penting juga karena banyaknya organisasi semua kegiatan proses bisnisnya tersimpan dalam database. Kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang database administrator harus mampu dalam penggunaan aplikasi seperti Oracle, Microsoft SQL Server, dll.

9. Database Analyst : Profesi ini bertanggung jawab dalam melakukan perancangan database. Profesi ini berfungsi untuk menjami bahwa rancangan database yang dibuat sudah memenuhi dan sesuai kebutuhan dalam organisasi/perusahaan.


10. Webmaster : Profesi yang merupakan gabungan antara web designer and web programmer, webmaster bertugas untuk memelihara aplikasi web yang digunakan. Sebagai catatan tambahan, webmaster mungkin juga bertanggung jawab untuk optimisasi mesin pencari ( SEO ), mengisi content pada website, hingga ‘memasarkan’ website tersebut.

11. ERP Specialist : Merupakan profesi yang bertanggung jawab dalam penyesuaian paket software ERP terhadap proses bisnis organisasi. Sebuah software ERP yang sudah dibeli belum tentu sesuai denagn proses bisnis yang berlaku. Perlu beberapa penyesuaian dan modifikasi dan konfigurasi dari paket ERP tersebut agar bisa sesuai dengan proses bisnis organisasi. Profesi ini banyak membutuhkan pengetahuan di bidang proses bisnis umum organisasi (SDM, Pemasaran, Logistik, Accounting dan Financial) serta arsitektur enterprise.


SUMBER:
https://nicklascrj.blogspot.co.id/2016/09/profesi-dalam-sistem-informasi-beserta.html

Jumat, 29 September 2017

JURNAL POLA DAN FAKTOR PERKEMBANGAN PEMANFAATAN LAHAN DI KECAMATAN MRANGGEN, KABUPATEN DEMAK

Abstrak
Kecamatan Mranggen merupakan salah satu wilayah pinggiran yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang. Sebagai wilayah pinggiran, Kecamatan Mranggen mengalami perkembangan penggunaan lahan yang intensif sejak tahun 90-an, hal ini disebabkan adanya ekspansi pembangunan perkotaan ke wilayah pinggiran, seperti pembangunan Perumnas Pucang Gading dan peningkatan kawasan pemukiman akibat tingginya urbanisasi. Fenomena ini yang menjadi pemicu bergesernya karakteristik Kecamatan Mranggen sebagai wilayah peri-urban yang memiliki sifat peralihan desa-kota manjadi dominan sifat kekotaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola dan faktor yang mempengaruhi perkembangan pemanfaatan lahan terbangun di Kecamatan Mranggen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data baik primer maupun sekunder. Penelitian dilakukan dengan 3 analisis, yaitu analisis spasial overlay melalui analisis perbandingan citra 1994 dan 2015 menggunakan GIS, analisis deskriptif, dan analisis crosstabs menggunakan SPSS. Hasilnya pola pemanfaatan lahan di Kecamatan Mranggen sejak tahun 1994-2015 membentuk pola yang menyebar dengan mengalami perkembangan wilayah yang berbeda-beda (cepat, sedang, dan lambat) dan faktor yang mempengaruhi pamanfaatan lahan terbangun di Kecamatan Mranggen adalah faktor lokasi, harga, lingkungan, aksesibilitas, dan fasilitas.

[Title: Patterns and Factor Land Use Development In Mranggen Subdistrict, Demak]. Mranggen sub-district is one of the sub-urban areas directly adjacent to the city of Semarang. As a sub-urban, District Mranggen experienced intensive development of land use since the 90s, this is due to the expansion of urban development to suburban areas, such as the construction of Pucang Ivory Housing and residential areas due to the high increase in urbanization. This phenomenon which triggers the shift characteristics of the District Mranggen as peri-urban regions which have properties intermediate widened rural-urban predominant nature of urbanity. The purpose of this study was to determine the patterns and the factors that influence the development of undeveloped land utilization in the district Mranggen. This study uses quantitative data collection techniques both primary and secondary. The study was conducted with three basic analysis, spatial analysis through comparative analysis of the image overlay in 1994 and 2015 using GIS, descriptive analysis, and crosstabs analysis using SPSS. The result is a pattern of land use in the district since the 1994-2015 Mranggen form a pattern that spreads to experience development of different regions (fast, medium and slow) and factors affecting pamanfaatan Mranggen undeveloped land in the district is the location factor, price, environment, accessibility, and facilities.
Keyword: Pola; Faktor; Perkembangan Pemanfaatan Lahan; Pinggiran.

1. PENDAHULUAN

Perkembangan sebuah kota tidak dapat dihindari, baik itu di bidang ekonomi, sosial & budaya. Perkembangan kota ini dapat ditunjukan oleh pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas yang ada di dalamnya (Dwiyanto & Sariffuddin, 2013). Meningkatnya jumlah penduduk serta aktivitasnya berdampak kepada kebutuhan akan lahan yang semakin besar. Keterbatasan luas lahan yang ada di kota akan menyebabkan perkembangan mengarah ke daerah pinggiran kota. Hal ini yang membuat daerah pinggiran kota merupakan daerah yang mengalami dinamika dalam perkembangannya, terutama dinamika dalam penggunaan lahan. Dinamika penggunaan lahan di wilayah kota dikarenakan adanya kebutuhan lahan untuk permukiman serta sarana dan prasarana penunjang aktivitas penduduk. Fenomena yang terjadi di Indonesia menunjukan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, perkembangan sebuah kota memiliki kecenderungan memunculkan kawasan-kawasan perkotaan baru di sekitar wilayah kota tersebut (Firman, 2009).
Kecamatan Mranggen merupakan salah satu wilayah pinggiran Kota Semarang yang memiliki perkembangan paling pesat dibandingkan dengan wilayah-wilayah pinggiran lainnya. Pesatnya perkembangan Kecamatan Mranggen dibandingkan dengan ke-6 wilayah pinggiran Kota Semarang lainnya dapat dilihat dari jumlah penduduknya. Jumlah penduduk Kecamatan Mranggen merupakan yang terbanyak, yaitu 175.604 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk di Kecamatan Sayung sebanyak 102.692 jiwa, Kecamatan Ungaran Timur berjumlah 69.631 jiwa, Kecamatan Ungaran Barat sebanyak 69.631 jiwa, Kecamatan Boja berjumlah 70.792 jiwa, Kecamatan Kaliwungu Selatan sebanyak 45.412 jiwa dan penduduk Kecamatan Kaliwungu berjumlah 58.806 jiwa.
Kecamatan Mranggen sebagai wilayah yang berpatan langsung dengan Kota Semarang merupakan wilayah yang berpotensi mengalami perubahan karakteristik wilayah. Perubahan karakteristik wilayah baik secara spasial maupun sosial ekonomi, dikarenakan wilayah ini berperan sebagai penghubung Kota Besar Semarang dengan wilayah penyangga Kabupaten Grobogan. Perubahan yang terjadi di wilayah pinggiran ini merupakan perubahan karakteristik wilayah pedesaan menjadi wilayah perkotaan. Sedangkan perubahan secara spasial merupakan perubahan penggunaan lahan, dari tahun 1994 lahan pertanian sekitar 83% (5.979ha) dan pada tahun 2015 menjadi 69% (4.995ha). Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan wilayah di Kecamatan Mranggen dipengaruhi oleh kedekatan wilayah dengan Kota Semarang dan akses jalan utama Semarang-Purwodadi, namun juga tidak menutup adanya kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lainnya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1. Penelitian ini berusaha untuk menganalisis pola perkembangan lahan terbangun di Kecamatan Mranggen dan faktor yang mempengaruhinya.
Kecamatan Mranggen merupakan wilayah pinggiran Kota Semarang dengan aktivitas wilayah di sektor perdagangan jasa, industri dan pertanian. Melalui analisis pola perkembangan lahan terbangun maka dapat diketahui kecenderungan perkembangan perkotaan yang terbentuk di Kecamatan Mranggen. Hal ini dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan wilayah Kecamatan Mranggen.
Perkembangan Pola Lahan Terbangun Di Wilayah Kecamatan Mranggen.
Perkembangan Perkotaan. Kawasan perkotaan di Indonesia adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan social dan kegiatan ekonomi (UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang). Kecenderungan perkembangan kota secara fisik dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan dan melebar (dinamis), sementara batas administrasi kota relatif sama (statis). Perkembangan batas fisik kota yang diperlihatkan oleh perubahan wujud tata ruang kota merupakan akibat dari kebutuhan yang meningkat, baik karena peningkatan jumlah penduduk maupun karena peningkatan kegiatan ekonomi. Batas administrasi kota adalah alat kontrol pemerintah lokal guna memecahkan masalahnya sendiri. Oleh karena batas fisik selalu berubah, maka batas fisik maya dari kota berada jauh diluar batas administrasi kota.
Pesatnya perkembangan pembangunan di kawasan pinggiran terjadi dikarenakan kawasan tersebut telah menjadi pusat pertumbuhan baru dan dapat dilihat dari banyaknya penduduk yang memilih untuk tinggal dikarenakan kenyamanan dan jauh dari kepadatan kota (Nelson & Nelson, 2010). Perkembangan pada wilayah pinggiran akan memunculkan banyak aktivitas komersial yang diiringi dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana (Ehinmowo & Eludoyin, 2010). Perkembangan wilayah pinggiran yang terjadi pada kota-kota besar tidak terlepas dari peran pemenintah atas kebijakan yang telah diambil terkait aturan pemanfaatan tata ruang kota (Deng, Huang, Rozelle, Zhang, & Li, 2015).
Pola Perkembangan Penggunaan Lahan. Penggunaan lahan merupakan salah satu kegiatan campur tangan manusia atas penguasaan terhadap tanah, baik itu dilakukan secara terencana atau tidak terencana. Dalam penggunaan lahan pada suatu wilayah akan membentuk sebuah pola perkembangan sebuah wilayah, baik itu nanti berbentuk teratur atau tidak teratur.
Pola perkembangan lahan terbangun pada kawasan perkotaan dapat dibagi menjadi 3, yaitu : pola linier dengan bentuknya mengikuti jaringan jalan, pola kantong dengan bentuk mengelompok disekitar pusat kota, pola hirarki dengan bentuk yang teratur dan berada disekitar pusat kota (Koestoer, 2001). Perkembangan pemanfaatan lahan di suatu wilayah merupakan artikulasi dari kegiatan manusia yang ada di permukaan bumi. Perkembangan pemanfaatan lahan pada suatu wilayah dapat berupa perubahan bentuk pemanfaatan lahan, perubahan harga lahan dan perubahan lingkungan. Perkembangan pemanfaatan lahan ini dicirikan dari perubahan lahan (Yunus, 2000).
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Pemanfaatan Lahan. Perkembangan yang terjadi di wilayah pinggiran memberikan dampak perubahan pada wilayah tersebut baik itu perubahan yang positif atau perubahan negatif (Freeman, 2005). Beberapa faktor yang dapat menyebabkan perubahan lahan pertanian menjadi non pertanian yang terjadi di wilayah pinggiran antaranya yaitu: bertambahnya penduduk di kawasan perkotaan, akan berdampak pada bertambahnya kebutuhan lahan untuk bermukim serta sarana dan prasarana penunjangnya. Kunci pembangunan sebuah kota adalah adanya pembangunan permukiman dengan skala yang besar, dibangunnya infrastruktur yang baik dan masuknya industri-industri baik itu berskala bersar atau berskala kecil (Firman, 2009). Homer Hoyt menyatakan bahwa perkembangan-perkembangan yang terjadi pada sebuah wilayah perkotaan dan wilayah disekitarnya, tidak terlepas dari adanya pengaruh lokasi, harga lahan, transportasi, dan komunikasi (Yunus, 2000). Faktor yang mempengaruhi pandangan masyarakat dalam memilih sebuah hunian dipengaruhi oleh kondisi fisik, sosial, ekonomi (Wang & Li, 2006).
Perkembangan pembangunan kawasan pinggiran adalah dampak dari pembangunan yang ada di pusat kota dan memunculkan pusat pertumbuhan baru. Berkembangnya pusat baru ini tidak terlepas dari faktor lokasi yang dekat dengan pusat kota, harga lahan yang lebih murah dibandingkan dengan pusat kota, lingkungan yang lebih nyama dari pada pusat kota, aksesibilitas yang terhubung dengan baik dengan pusat kota, dan fasilitas lengkap. Faktor-faktor tersebut dianalisis dengan tabulasi silang dan nantinya akan menunjukan faktor mana yang lebih dominan dalam mempengaruhi perkembangan wilayah pinggiran.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian terkait pola dan faktor perkembangan pemanfaatan lahan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir di Kecamatan Mranggen ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Analisis yang digunakan adalah analisis pola perkembangan pemanfaatan lahan terbangun dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pola perkembangan lahan terbangun yang terjadi di wilayah pinggiran Kecamatan Mranggen. Analisis ini dilakukan berdasarkan indikasi pada perubahan spasial. Data yang digunakan dalam analisis adalah gambar rupa bumi Kecamatan Mranggen tahun 1994 dan tahun 2015. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah survei primer dan survei sekunder serta metode analisis yang dilakukan antara lain analisis spasial, analisis deskriptif dan analisis komparatif.
Analisis faktor yang mempengaruhi perkembangan pemanfaatan lahan terbangun dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan perkotaan di Kecamatan Mranggen. Data yang dibutuhkan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi perkembangan pemanfaatan lahan terbangun di Kecamatan Mranggen adalah data primer berupa hasil sebaran kuesioner dari lapangan. Analisis data yang digunakan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi perkembangan pemanfaatan lahan terbangun di Kecamatan Mranggen dari hasil sebar kuesioner adalah analisis crosstabs. Analisis crosstabs atau tabulasi silang merupakan salah satu metode yang menggunakan uji statistik untuk mengidentifikasikan dan mengetahui kolerasi antara dua variabel.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkembangan Pola Lahan Terbangun Di Wilayah Kecamatan Mranggen. Pada tahun 1994, karakteristik lahan terbangun di Kecamatan Mranggen masih didominasi oleh perkampungan penduduk (lihat gambar 1).
Gambar 1. Pola Perkembangan Lahan Terbangun Kecamatan Mranggen
Sumber: Hasil Analisis Penyusun, 2016
Perkampungan penduduk tersebut merupakan permukiman yang memiliki bentuk tidak teratur dan dibangun secara mandiri oleh penduduk. Permukiman pada desa-desa yang berada didalam wilayah Kecamatan Mranggen memiliki kecenderungan sifat yang menyebar. Sifat permukiman yang memancar memiliki karakteristik permukiman yang mengelompok pada titik-titik wilayah dan terpisahkan oleh area persawahan ataupun perkebunan. Pola permukiman penduduk antara desa yang satu dengan desa lainnya terpisahkan oleh lahan persawahan dan perkebunan.
Pada tahun 2015, pola lahan terbangun yang terdapat di Kecamatan Mranggen mengalami perkembangan dan perubahan seiring dengan meningkatnya jumlah populasi penduduk yang tinggal serta luasnya kawasan permukiman yang juga bertambah. Permukiman baru yang muncul sebagian besar berada di wilayah yang dekat dengan Kota Semarang dan wilayah yang berada di lalui Jalan Semarang-Purwodadi. Pola lahan terbangun di Kecamatan Mranggen bersifat menyebar dan akhirnya mengalami penggabungan secara linier akibat munculnya lahan terbangun baru di sepanjang jalan penghubung antara titik permukiman satu dengan pemukiman yang lainnya. Seperti wilayah permukiman Batursari, Mranggen, dan Kembangarum yang saling terhubung dengan adanya Jalan Semarang-Purwodadi.
Selain itu, pada beberapa wilayah di Kecamatan Mranggen juga terbentuk permukiman baru yang mana awalnya hanya berupa permukiman yang tidak teratur dengan sifat perkampungan, berkembang menjadi permukiman yang teratur berupa perumahan baru. Terdapat beberapa wilayah di Kecamatan Mranggen yang memunculkan perumahan-perumahan baru, antara lain di Desa Bandungrejo, Desa Batursari, Desa Kebonbatur dan Desa Mranggen.
Perumahan yang terdapat di Kecamatan Mranggen secara langsung ataupun secara tidak langsung dipengaruhi oleh wilayah yang dekat dengan Kota Semarang dan adanya akses Jalan Semarang-Purwodadi. Perumahan muncul merupakan akibat dari semakin berkembangnya aktivitas masyarakat, dimana untuk menunjang aktivitas tersebut masyarakat membutuhkan tempat untuk beristirahat setelah beraktivitas. Perumahan yang muncul di Kecamatan Mranggen sebagian besar merupakan perumahan yang berskala besar. Tingginya kebutuhan penduduk Kota Semarang akan rumah sudah tidak dapat ditampung lagi oleh Kota Semarang. Akibatnya penduduk Kota Semarang memiliki kecenderungan untuk lebih memilih mencari tempat tinggal di pinggiran Kota Semarang. Melihat hal ini, para developer mengembangkan kawasan perumahan baru dipinggiran Kota Semarang, dikarenakan memiliki harga yang relative lebih terjangkau dan kondisi lingkungan yang lebih nyaman.
Pada awal tahun 1990-an, perumahan yang telah berkembang di Kecamatan Mranggen adalah Perumnas Pucang Gading dan Pondok Majapahit 1. Memasuki tahun 2000-an, perumahan mulai berkembang akibat dari perembetan pembangunan sebelumnya dengan munculnya perumahan baru, yaitu Jasmine Park, Batursari Permai, Kebon Asri, Pondok Majapahit 2, Arion Mas, dan Ivory Park.
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Lahan Kecamatan Mranggen. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara perkembangan lahan dengan harga, aksesibilitas, lokasi, fasilitas, dan lingkungan dapat dilakukan dengan mentabulasi silang/crosstab antara variabel tersebut. Untuk mengetahui hubungan dapat dilakukan pengujian hipotesis sebagai berikut : H0 : Tidak ada hubungan antara perkembangan lahan Kecamatan Mranggen dengan harga, aksesibilitas, lokasi, fasilitas, dan lingkungan. H1 : Ada hubungan antara perkembangan lahan Kecamatan Mranggen dengan harga, aksesibilitas, lokasi, fasilitas, dan lingkungan.
Dengan ketentuan pengambilan keputusan dapat dilakukan berdasarkan probabilitas :
Jika nilai probabilitas > 0,05, maka H0 diterima.
Jika nilai probabilitas < 0,05, maka H1 ditolak.
A. Tabulasi Silang antara Perkembangan Kecamatan Mranggen dengan Lokasi. Untuk tabulasi silang (lihattabel 1) antara perkembangan Kecamatan Mranggen dengan lokasi yang ada, dari hasil pengolahan data didapatkan bahwa kolom Asymp Sig. bernilai 0,000. Dimana nilai Asymp Sig. 0,000 memiliki arti < 0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan antara variabel tingkat perkembangan Kecamatan Mranggen dengan variabel lokasi. Dapat diartikan juga bahwa tingkat perkembangan di Kecamatan Mranggen dipengaruhi oleh jauh/dekatnya lokasi yang ada di wilayah tersebut.
Tabel 1. Chi-square tests Perkembangan dengan Lokasi
B. Tabulasi Silang antara Perkembangan Kecamatan Mranggen dengan Harga. Untuk tabulasi silang antara perkembangan Kecamatan Mranggen dengan harga yang ada (lihat tabel 2), dari hasil pengolahan data didapatkan bahwa kolom Asymp Sig. bernilai 0,000. Dimana nilai Asymp Sig. 0,000 memiliki arti < 0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan antara variabel tingkat perkembangan Kecamatan Mranggen dengan variabel harga. Dapat diartikan juga bahwa tingkat perkembangan di Kecamatan Mranggen dipengaruhi oleh mahal/murahnya harga yang ada di wilayah tersebut.
C. Tabulasi Silang antara Perkembangan Kecamatan Mranggen dengan Lingkungan. Untuk tabulasi silang antara perkembangan Kecamatan Mranggen dengan lingkungan yang ada (lihat tabel 3), dari hasil pengolahan data didapatkan bahwa kolom Asymp Sig. bernilai 0,000. Dimana nilai Asymp Sig. 0,000 memiliki arti < 0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan antara variabel tingkat perkembangan Kecamatan Mranggen dengan variabel lingkungan. Dapat diartikan juga bahwa tingkat perkembangan di Kecamatan Mranggen dipengaruhi oleh baik/buruknya lingkungan yang ada di wilayah tersebut, yaitu tinggi/rendahnya polusi udara dan bebas banjir.
Tabel 2. Chi-Square Tests Perkembangan Dengan Harga

Tabel 3. Chi-Square Tests Perkembangan Dengan Lingkungan

D. Tabulasi Silang antara Perkembangan Kecamatan Mranggen dengan Aksesibilitas. Untuk tabulasi silang antara perkembangan Kecamatan Mranggen dengan aksesibilitas yang ada (lihat tabel 4), dari hasil pengolahan data didapatkan bahwa kolom Asymp Sig. bernilai 0,000. Dimana nilai Asymp Sig. 0,000 memiliki arti < 0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan antara variabel tingkat perkembangan Kecamatan Mranggen dengan variabel aksesibilitas. Dapat diartikan juga bahwa tingkat perkembangan di Kecamatan Mranggen dipengaruhi oleh baik/buruknya kondisi jalan yang ada di wilayah tersebut.
E. Tabulasi silang antara perkembangan Kecamatan Mranggen dengan fasilitas. Untuk tabulasi silang antara perkembangan Kecamatan Mranggen dengan fasilitas yang ada (lihat tabel 5), dari hasil pengolahan data didapatkan bahwa kolom Asymp Sig. bernilai 0,000. Dimana nilai Asymp Sig. 0,000 memiliki arti < 0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan antara variabel tingkat perkembangan Kecamatan Mranggen dengan variabel fasilitas. Dapat diartikan juga bahwa tingkat perkembangan di Kecamatan Mranggen dipengaruhi oleh kelengkapan fasilitas yang telah tersedia di wilayah tersebut.
Tabel 4. Chi-Square Tests Perkembangan Dengan Aksesibilitas

Tabel 5. Chi-Square Tests Perkembangan Dengan Fasilitas

Dari perhitungan tabulasi silang disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Kecamatan Mranggen adalah lokasi, harga lahan, lingkungan, aksesibitas, dan fasilitas. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan kawasan Mranggen sama dengan yang kemukakan oleh Freeman, Yunus, Wang dan Si-ming, dimana perkembangan sebuah kota dipengaruhi oleh perkembangan sarana, prasarana, fasilitas, lokasi, harga, transportasi dan kondisi fisik. Dari kelima faktor ini terdapat faktor yang memiliki nilai besar terhadap perkembangan Kecamatan Mranggen. Kelengkapan fasilitas menjadi faktor pendorong utama berkembangannya Kecamatan Mranggen, kemudian faktor aksesibilitas, faktor lokasi, faktor harga dan faktor lingkungan.
Kecenderungan Perkembangan Pemanfaatan Lahan Kecamatan Mranggen. Pada tuhun 1994, sebagian besar wilayah Kecamatan Mranggen berkarakteristik pedesaan dengan aktivitas utama berupa pertanian. Secara keseuluruhan wilayah Kecamatan Mranggen tidak semuanya berkarakteristik pedesaan, melainkan terdapat satu (1) desa yang memiliki karakteristik perkotaan, yaitu Desa Mranggen. Karakteristik perkotaan yang dimiliki oleh Desa Mranggen ini ditunjukan oleh perkembangan aktivitas perdagangan dan jasa.
Dilihat dari perubahan spasial yang telah terjadi, terdapat beberapa wilayah yang mengalami perubahan menjadi kota (mengalami perubahan cepat, sedang, dan lambat). Wilayah desa yang berkarakteristik kota atau yang mengalami perubahan secara signifikan hanya ada dua (3) desa, yaitu Desa Mranggen, Desa Kebonbatur dan Desa Batursari. Sedangkan wilayah yang berkarakteristik perkotaan dengan mengalami perubahan cukup sedang mencakup dua (2) desa, yaitu Desa Bandungrejo, Desa Kembangarum (lihat gambar 2).
Gambar 2. Aktivitas Wilayah Perkotaan Kecamatan Mranggen Tahun 2015
Sementara itu, masih terdapat empat belas (14) desa di wilayah Kecamatan Mranggen yang masih berkarakteristik pedesaan atau yang hanya mengalami perubahan perkembangan wilayah yang lambat, yaitu Desa Banyumeneng, Desa Sumberejo, Desa Candisari, Desa Ngemplak, Desa Waru, Desa Jamus, Desa Menur, Desa Tegalarum, Desa Tamansari, Desa Kangkung, Desa Kalitengah, Desa Brumbung, Desa Karangsono, dan Desa Wringinjajar.
Jika dilihat dari wilayah amatan, perubahan karakteristik kawasan perkotaan cepat terdapat di wilayah tengah. Hampir seluruh wilayah tengah adalah wilayah yang mengalami perubahan lahan terbangun cepat. Selain wilayah tengah, perubahan karakteristik cepat juga terjadi di wilayah Selatan. Tidak semua wilayah Selatan yang mengalami perubahan kawasan perkotaan yang cepat, hanya wilayah yang bersebelahan dengan Kota Semarang saja. Sedangkan wilayah Selatan yang berbatasan dengan Kecamatan Karangawen memiliki perkembangan yang lambat dan sedang. Wilayah Utara merupakan wilayah yang paling lambat perkembangan kawasan perkotaannya di Kecamatan Mranggen. Hal ini terlihat dari keseluruhan desa yang ada di wilayah Utara masih bercirikan pedesaan.
Kecenderungan yang terjadi pada wilayah terbangun yang cepat tumbuh dan berkembang di Kecamatan Mranggen yaitu akan lebih berkembang kearah Selatan dengan rupa hunian atau permukiman. Hal ini terlihat dari adanya pembangunan permukiman baru di Desa Kebonbatur, Desa Batursari, dan Desa Kangkung yang semakin meluas kearah Selatan dan Barat. Arah Selatan dan Barat dari Kecamatan Mranggen yaitu mengarah ke Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Pedurungan. Kecenderungan ini harus mendapatkan perhatian dari pemerintah kedepannya, jika tidak maka perkembangan permukiman Kecamatan Mranggen akan sampai di Kecamatan Tembalang yang mana wilayahnya masih banyak berupa lahan pertanian. Serta jika perkembangan permukiman Kecamatan Mranggen terus mengarah ke Selatan, maka perkembangan permukiman ini akan sampai hingga ke kawasan Selatan yaitu Wilayah Ungaran.

4. KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian ini terkait dengan perkembangan Kecamatan Mranggen dari tahun 1994 sampai tahun 2015 menunjukan perkembangan kawasan yang beragam. Terdapat wilayah yang memiliki perkembangan yang lambat, sedang hingga perkembangan cepat. Dilihat dari tingkat perkembangan aktivitas perkotaannya, Kecamatan Mranggen yang berada di bagian Utara memiliki perkembangan yang lambat dari pada wilayah yang berada di bagian Selatan. Akan tetapi wilayah yang memiliki perkembangan tercepat di Kecamatan Mranggen adalah wilayah yang berada di bagian Tengan yang dilalui oleh Jalan Semarang-Purwodadi.
Ditinjau dari kecenderungannya, kawasan perkotaan di Kecamatan Mranggen cenderung mengarah ke bagian Barat dan Selatan yang dekat dengan Kota Semarang. Melihat pola perkembangan pemanfaatan lahan terbangun di Kecamatan Mranggen membentuk pola yang menyebar, yaitu pada tahun 1994 masih berupa perkampungan kecil yang menyebar diseluruh wilayah dan dibatasi oleh lahan pertanian. Pada tahun 2015, pola permukiman di Kecamatan Mranggen tetap menyebar tetapi berkembang mengikuti jalan. Perkembangan pemanfaatan lahan terbangun di Kecamatan Mranggen ini tidak terlepas dari adanya faktor kedekatan lokasi dengan Kota Semarang, harga lahan, kondisi lingkungan, aksesibilitas wilayah dan fasilitas yang ada di wilayah tersebut.

5. DAFTAR PUSTAKA

Dewa Raditya Putra , Wisnu Pradoto
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang
http://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jpk/article/view/446/html#kesimpulan
Deng, X., Huang, J., Rozelle, S., Zhang, J., & Li, Z. (2015). Impact of urbanization on cultivated land changes in China. Land Use Policy, 45, 1-7. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.landusepol.2015.01.007
Dwiyanto, T. A., & Sariffuddin, S. (2013). Karakteristik Belanja Warga Pinggiran Kota (Studi Kasus: Kecamatan Banyumanik Kota Semarang). 2013, 1(2), 118-127. doi: http://dx.doi.org/10.14710/jpk.1.2.118-127
Ehinmowo, A., & Eludoyin, O. (2010). The university as a nucleus for growth pole: Example from Akungba-Akoko, Southwest, Nigeria. International Journal of Sociology and Anthropology, 2(7), 149-154. doi:http://www.academicjournals.org/article/article1379428966_Ehinmowo%20and%20Eludoyin.pdf
Firman, T. (2009). The continuity and change in mega-urbanization in Indonesia: A survey of Jakarta–Bandung Region (JBR) development. Habitat International, 33(4), 327-339. doi:http://dx.doi.org/10.1016/j.habitatint.2008.08.005
Freeman, L. (2005). Displacement or Succession?: Residential Mobility in Gentrifying Neighborhoods. Urban Affairs Review, 40(4), 463-491. doi: http://dx.doi.org/10.1177/1078087404273341
Koestoer, R. H. (2001). Dimensi Keruangan Kota: teori dan kasus. Jakarta: UI Press.
Nelson, L., & Nelson, P. B. (2010). The global rural: Gentrification and linked migration in the rural USA. Progress in Human Geography. doi: http://dx.doi.org/10.1177/0309132510380487
Wang, D., & Li, S.-m. (2006). Socio-economic differentials and stated housing preferences in Guangzhou, China.Habitat International, 30(2), 305-326. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.habitatint.2004.02.009
Yunus, H. S. (2000). Struktur tata ruang kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.